Surat untuk Tuhan

Sekarang baru ingat apa yang ingin aku tulis di sini. Aku ingin menulis surat untuk Tuhan. Ya, surat untuk Tuhan. Meski aku selalu berdoa sebelum tidur, tapi rasanya aku ingin menulis juga.

Dear Tuhan,
Ketika aku hendak menuliskan surat ini, entah kenapa mataku berkaca-kaca. Mungkin karena aku merasa tidak layak untuk menulis surat kepadaMu. Mungkin juga karena pada saat ini aku sedang merasakan beban yang sangat berat. Tapi aku tetap bersyukur untuk apa yang aku alami sampai saat ini.
Aku telah melewati 23 tahun hidupku dengan segala sesuatu yang terjadi. Baik hal-hal yang menurutku menyenangkan, maupun hal-hal yang juga menurutku menyebalkan serta menjengkelkan. Aku bisa berkuliah dan lulus tepat waktu dari sebuah universitas terkemuka di Indonesia adalah sebuah anugerah. Pada awalnya tak ku sangka malah, bahwa aku sanggup melakukan semua hal tersebut.
Ketika lulus-pun, aku terus bergumul tentang masalah pekerjaan yang tak kunjung kudapatkan. Pekerjaan impian yang sempat aku inginkan, tidak Kau ijinkan aku untuk mencobanya. Malah temanku yang aku ajak untuk ikut seleksi masuk, malah Kau ijinkan. Awalnya aku kesal dan kecewa, aku sampai menangis (bahkan sampai saat aku menulis ini, aku langsung mengeluarkan air mata). Aku kecewa dan iri terhadap teman-teman ku yang lebih dulu mendapatkan pekerjaan. Padahal kami sama-sama lulus di tahun yang sama. Butuh waktu bagiku untuk mengerti semua rencanaMu Tuhan. Pada saat itu, Ibuku pernah berkata bahwa, Engkau akan mengirimkan sebuah pekerjaan jika Engkau merasa aku sudah siap, dan aku memang dibutuhkan ditempat itu. Akupun sebenarnya masih bingung pada saat itu, sampai akhirnya aku memang mendapatkan pekerjaan yang sampai saat ini aku geluti.
Pada saat aku masuk kerja, awalnya aku merasa senang dan gembira akan hal itu. Banyak tugas baru dan pekerjaan yang harus aku pelajari. Aku merasa tertantang akan hal itu Tuhan, sungguh. Engkau sendiri tahu bahwa aku suka belajar hal baru dan suka bereksperimen ria. Sampai akhirnya, seseorang dari rekan kerjaku membuat hatiku sedih, marah, dan gelisah. Aku memang belajar ilmu psikologi, tapi aku juga seorang manusia melankolis kronis, yang masih mencoba mengintegrasikan seluruh ilmu yang telah kupelajari selama 4 tahun kuliah. Aku dongkol sama dia Tuhan, karena selalu menganggapku sebagai seorang jongos yang bisa dibodohi. Selama ini aku memilih untuk diam saja, bukan karena aku bodoh, tapi karena aku masih “polos” untuk masalah dunia kerja. Aku tidak tahu harus berbuat apa di dunia kerja jika ketemu sama orang seperti dia. Ada kalanya aku melawannya, dan berbalik marah padanya ketika aku dimarahi olehnya untuk sebuah alasan yang menurutku tidak masuk akal. Aku berada di jalur yang benar pada saat itu, dan kenapa dia marah padaku. Aku jengkel sekali. Mungkin Kau sendiri juga sudah tau akan hal ini ya..? hmm, entahlah aku masih merasa sangat berat. Entah ada apa dengannya dan apa yang ada di kepalanya. Semua pekerjaannya dilimpahkan kepadaku. Jengkel? Ya, sangat. Tapi hati kecilku mengatakan bahwa aku bisa mengatasi dengan bantuan dariMu Tuhan, bahwa semua ini Kau ijinkan terjadi agar aku belajar sesuatu, agar aku belajar semua hal yang ada di dunia kerja.

Ada lagi kemudian satu temanku yang menurutku sih butuh pertolongan, tapi aku tak mampu menolongnya. Ilmu psikologiku masih belum memadai dan mencukupi. Untuk  menegakkan diagnosa saja aku belum bisa, nanti yang ada malah labeling yang tidak jelas. Aku merasa iba padanya, sepertinya dia butuh perhatian. Malah justru dia mencari perhatian secara terang terangan. Rekan kerjaku yang lain menganggap hal itu sebagai hal yang aneh. Mereka sering berkata, aneh ya ada orang kayak dia. Bebanku sangat berat Tuhan, jika aku mengingat bahwa latar belakang ilmuku adalah psikologi. Mereka berharap banyak dariku.

Ada kalanya pula aku di cap sebagai seorang pengadu oleh karyawan yang telah resign. Padahal kesalahan bukan padaku, tapi dia yang telah memutar kata-katanya. Untuk hal ini, aku juga memilih untuk diam dan mempelajari apa yang sedang dan telah terjadi. Sudahlah, aku sudah tidak mau mempermasalahkan hal ini dan itu.

Terlalu naif jika aku berkata semua ini baik-baik saja, tapi terlalu lebay juga jika aku mempermasalahkan semua perkara ini kepadaMu. Karena aku yakin, Engkau punya sesuatu untukku. Engkau punya misi tersendiri dengan menghadirkan mereka ke dalam hidupku.

Maaf Tuhan jika suratku ini terlalu panjang untuk Kau baca. Maaf juga jika aku mungkin salah menafsirkan semua kejadian diatas. Tolong untuk ingatkan aku bahwa Engkau selalu ada untukku dan Engkau akan mengirimkan orang-orang yang akan menjagaku di sini.

Terima kasih Tuhan untuk semua hal yang telah Kau beri. Terima kasih Tuhan karena aku masih diijinkan untuk menulis surat ini.

Anak-Mu

JLP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: