Lelaki Senja

15 Januari 2011

-Racauan sore hari yang tak tentu arah-

 

Suatu ketika di pusat kota, dimana senja sedang datang ke sana. Sebelum rembulan datang menjemputnya, sebagai pengganti sang senja.

Langkah kaki gadis itu mengisyaratkan kesedihan yang mendalam. Tapi entah apa kesedihan yang sedang ia rasakan. Hanya ia sendiri yang tahu. Tanpa memandang sekitar, sang gadis masuk ke sebuah kafe tua yang terletak di pinggir jalan. Ia memilih meja paling pojok — meja yang terletak paling belakang di ruangan kafe itu — namun masih bisa melihat keadaan luar lewat sebuah jendela kaca. Seorang pelayan menghampiri sang gadis sambil memberikan buku menu kepadanya. Namun buku menu itu ditolaknya, seraya mengatakan kepada sang pelayan,

“Saya sedang menunggu seseorang. Tapi tidak tahu siapa. Apakah Anda dapat membantu saya?”

“Maaf nona, kalau untuk hal itu, saya tidak dapat membantu Anda. Tapi, mungkin saya dapat membawakan minuman untuk Anda?”

“Kalau begitu, saya akan menunggu sambil menikmati secangkir kopi hangat saja.”

Tidak lama kemudian, kopi hangat yang dipesan oleh gadis itu datang. Dalam lamunannya, ia hanya memikirkan orang yang akan ditemuinya. Tapi sampai sekarang, ia sendiri tidak tahu siapa dan kapan orang itu akan datang. Sunguh aneh dan ironis memang. Gadis itu tidak melakukan apa-apa, kecuali duduk dan memandang keluar jendela. Memandang cahaya senja yang mulai kemerahan dan nyaris redup. Sesekali ia menyeruput kopi hangat yang tadi dipesannya. Pelayan yang kebingungan dengan tingkah laku gadis itu, berkali-kali menghampiri meja sang gadis, sekedar untuk melihat keadaannya. Tetap tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh sang gadis. Ia tetap memandang keluar jendela, sambil memandang cahaya senja dan menunggu orang yang tidak tahu siapa itu.

Senja semakin larut dan nyaris punah, ketika tiba-tiba ada sosok laki-laki yang melintas di depan kafe tua itu. Perawakannya sederhana. Tidak terlalu tinggi tidak pula terlalu pendek. Berkemeja dan bercelana panjang, dipadukan dengan sepatu pantofel. Sambil membawa tas berukuran sedang yang diselempangkan ke arang punggungnya. Laki-laki itu datang bersama dengan senja yang hampir sirna. Melintas dihadapan sang gadis yang sedang termenung memandang keluar jendela. Namun sayangnya, sang gadis tidak dapat melihat dengan jelas wajah laki-laki itu. Temaram senja yang hampir sirna membuat sosok lelaki itu menjadi sebuah siluet saja.

“Pelayan! Siapa laki-laki itu?” teriak sang gadis kepada pelayan yang sedari tadi mondar-mandir di dekatnya.

Sang pelayan langsung menghampiri sambil tergopoh-gopoh “Laki-laki yang mana, nona?”

“Itu! Yang sedang berjalan ke arah ujung jalan.”

“Saya tidak tahu nona. Tapi yang pasti dia selalu berjalan ke arah sana saat senja mulai sirna.”

“Sepertinya, dia adalah orang yang saya tunggu. Tapi siapa dia?”

“Kami biasa menyebutnya Lelaki Senja. Karena dia selalu muncul saat senja dan tidak ada satupun diantara kami yang tahu siapa dia.”, jawab pelayan itu dengan nada menjelaskan.

Lelaki Senja, yang entah bagaimana caranya telah memberikan getaran dilematik kepada sang gadis. Haruskah dikejar karena ternyata dialah orang yang selama ini ditunggu atau jangan-jangan, laki-laki itu hanya menampilkan ilusi belaka sebagai hasil dari terpaan cahaya temaram senja yang sebentar lagi akan dimakan oleh malam. Saat gadis itu hendak beranjak untuk mengejar Lelaki Senja, ada seorang pria paruh baya yang mencibir.

“Untuk apa kau kejar laki-laki itu nak. Kau tidak tahu siapa dia. Bahkan kami tidak pernah melihat wajahnya, karena selalu tertutup cahaya temaram senja.”

“Tapi dari kesederhanaannya itulah aku merasakan sesuatu Pak.”

“Sudahlah, tidak perlu kau kejar. Untuk apa? Toh kau juga tidak akan bisa menemukannya lagi sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang senja sudah dimakan oleh malam. Rembulan telah menjemput senja.”

“Baiklah. Aku akan bersabar menunggunya disini. Karena rembulan akan selalu digantikan oleh matahari.”

“Dasar bodoh! Apa hubungannya?”

“Ya, seperti hari ini. Rembulan akan berebut tempat dengan matahari. Disitulah Lelaki Senja akan muncul.”

Kembali gadis itu menempati tempat duduknya, di meja paling pojok. Sambil berharap bahwa esok  matahari akan muncul. Jika tidak, tidak akan ada Lelaki Senja. Tidak akan ada cerita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: